Konspirasi Diri Sendiri, by Prie GS – 21 November 2013 at 18:04

Kerapuhan sebuah negara bisa digerogoti dari keluarga. Keluarga disuguhi berbagai kesibukan sehingga anggotanya lupa kalau mereka punya keluarga. Ibu sibuk nonton TV, bapak sibuk main komputer, si sulung sibuk SMS, si kecil sibuk main game. Di rumah saja mereka tidak bertemu, apalagi diluar.

 

Ada jenis kesibukan yang mencekam. Sehingga jangankan pada pihak lain, pada diri sendiripun tidak ada ketersediaan ruang dialog.  Banjir informasi membuat kita lupa untuk menyediakan jeda pada diri sendiri. Keluarga modern mengalami persoalan ini. Maka mari kita teliti apa rumusan modern itu, dan apa yang dihasilkannya. Pertama ternyata adalah privatisasi besar-besaran terhadap nilai sosial. Seluruh yang sosial mengalami individual. Nonton TV sendiri, interaksi sendiri. Anak-anak ramai secara virtual tapi tidak secara sosial. Ternyata seluruh anggota keluarga berhadapan dengan ancaman yang sama. Lihatlah perubahan nilai sosial itu.

 

Privatisasi individu  ini adalah hasil modernitas paling nyata, karena dimulai dari keluarga. Kehilangan inilah yang terjadi. Waktu berpoduksi dan bermasyarakat habis ditelan dengan keasyikan pada diri sendiri. Masyarakat kehilangan produktifitas dan kewaspadaan. Lihatlah gaya hidup yang tidak waspada. Ia kehilangan kontrol sosial, termasuk kekeliruan yang dibenarkan oleh aturan. Tata ruang keliru diizinkan,  penghancuran tradisi dibolehkan, apakah itu tradisi seni, makanan tradisi, pasar tradisi, dan kearifan tradisi.

 

Mari bayangkan, sanggupkah pedagang kecil bertahan 10 tahun lagi, kalau mereka tidak dilindungi dan diedukasi, tapi dibiarkan perang terbuka dengan pemilik modal raksasa. Tindakan melindungi juga percuma, kalau masyarakat tidak ada gerakan moral untuk belanja di pasar tradisional. Pernahkah kita bayangkan krisis yang sangat berbahaya didepan? Krisis air minum!  Masyarakat  tidak bisa minum dari  sumur sendiri karena kadar garam dan besi terlalu tinggi. Sementara sumber air alam habis diprivatisasi pemodal raksasa.

 

Inilah hasil dari sebuah keadaan ketika pemerintah kurang waspada, ditambah  masyarakat yang asyik dengan layar privat mereka. Siapa biang gara-garanya? Tidak ada sebab tunggal, bukan karena sekedar internet, facebook, atau twitter. Sebagian diantaranya juga karena kesalahan diri sendiri, yang mengizinkan pertahanan kita jadi selemah ini.

 

Advertisements

About Issa Dyah Utami

mensyukuri hidup sebagai karunia Tuhan untuk menjalankan secuil peran bagi kebaikan bersama
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.