Pembibitan Dosen

Secara umum bisa dikatakan bahwa salah satu faktor penting dalam dimensi pengukuran kualitas suatu kehidupan bangsa adalah sumber daya manusia. Jika saya boleh menentukan bobot SDM sebagai salah satu dimensi, maka saya akan memberikan bobot 30% pada dimensi ini. Manusia sebagai pengkerasi ide, gagasan, konsep dan mewujdkannya secara riil dalam sebuah benda atau produk. 

Kembali pada judul dan tujuan penulisan ini, yaitu memberikan ide pemikiran untuk program pembibitan dosen yang berkualitas di negeri tercinta. Pembibitan dosen adalah bisa dikatakan sebagai program untuk mengidentifikasi, mendidik, memfasilitasi dan menyiapkan dan menugaskan calon-calon Dosen berkualitas di selauruh negeri. Program ini bisa dimulai sejak colon dosen berusia dini. Anak-anak yang sudah diidentifikasi mempunyai kualitas otak, skill dan mentalitas tinggi dididik dan diberikan fasilitas pembelajaran khusus. Kenapa saya katakan khusus, karena anak-anak yang berkulitas ini kemungkinan besar mampu menyelesaikan sekolah atau pendidikan lebih cepat dibandingkan anak-anak dengan kemampuan rata-rata. 

Kemampuan and passion anak-anak calon dosen ini bisa meliputi berbagai bidang, mulai dari eksakta, seni, budaya dan keagamaan. Saya berpendapat bahwa dengan menyesaikan studi lebih cepat sampai jenjang S3, anak-anak ini akan memperoleh kesmpatan lebih banyak dalam menrepakan atau mengembangkan ilmunya melalui aktifitasnya sebagai dosen dan peneliti. Peningkatan jumlah dosen-dosen muda yang berkulaitas, diharapkan akan memberikan kontribusi lebih lama dan banyak bagi perkembangan kualitas sumber daya manusia. 

Konsep pembibitan dosen ini muncul dalam pikiran saya, saat saya temui banyak rekan-rekan PhD student yang masih berusia muda (sekitar 21-25 tahun) ditempat saya menempuh PhD. Sedangkan saya sendiri dan banyak teman-teman PhD student dari negeri saya baru menempuh PhD saat usia udah diatas 30 tahun. Saya berandai-anadai, jika saja saya dulu berkesempatan menepuh PhD saat usia 26 atau 28, dan lulus saat usia 30 tahun, kemungkinan akan lebih banyak kontribusi yang bisa saya berikan untuk negara tercinta. 

Saat ini memang masih banyak dosen-dosen yang bergelar S2. Kondisi ini memang bisa dimaklumi, karena mungkin sebagian dosen tersebut merasa sudah cukup dengan pendidikan S2 dan perturannya pun hanya mensyaratkan pendidikan minimal S2 untuk dosen. Setelah menempuh S3 yang sedang berjalan selama lebih dari dua tahun ini, saya menyadari bahwa pendidikan S3 sangat penting untuk dosen dalam meningkatkan dan mengembangkan kemampuan dibidang ilmu tertentu melalui penelitian, memotivasi untuk terus meneliti dan menghasilkan kebaharuan dalam IPTEK serta menempa mentalitas menjadi pribadi yang lebih matang, konsisten, fokus. Tentu saja faktor lain, yaitu Universitas dan tempat kita menempuh pendidikan S3 juga sangat menetukan kualitas keluaran seorang PhD. Dan, kembali lagi – faktor utama adalah karakter pribadi yang memeng layak dan memiliki passion untuk berberbagi dan mengembangkan ilmu – yang harus diidentifikasi sejak dini dari para calon pembibitan dosen. 

Leeds, 24 December 2013 at 10.39 GMT 

Advertisements

About Issa Dyah Utami

mensyukuri hidup sebagai karunia Tuhan untuk menjalankan secuil peran bagi kebaikan bersama
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s